SCHIZOPHRENIA
DILINGKUNGAN SEKOLAH (SMA)
PSIKOLOGI
ABNORMAL
Disusun
Oleh :
Kelompok
4
Sistria Rika Astuti (A1E116095)
Dosen
Pembimbing :
Fadzlul,S.Psi.,M.Psi.
Marlita
Andhika Rahman,S.Psi.,M.Psi
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN
AJARAN 2016/2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan
hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
perkembangan emosi pada remaja tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun sebagai tugas mata kuliah Psikologi
Abnormal. Penulis berusaha menyusun makalah
ini dengan segala kemampuan , namun penulis menyadari bahwa laporan ini
masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan maupun segi
penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan
penulis terima dengan senang hati demi perbaikan tugas selanjutnya.
Semoga laporan ini bisa memberikan inormasi dan menambah
wawasan mengenai perkembanagan emosi pada remaja. Atas perhatian dan
kesempatannya penulis ucapkan terima kasih.
Jambi, April
2017
Kelompok 4
Daftar
isi
Kata Pengantar.................................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang.............................................................................................................. 4
1.2. Rumusan
masalah......................................................................................................... 5
1.3. Tujuan........................................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1.pengertian
Schizophrenia............................................................................................... 6
2.2. Faktor-faktor Penyakit Schizophrenia.......................................................................... 7
2.3.Pencegahan Penyakit Schizophrenia............................................................................. 8
2.4.Contoh
Kasus Schizophrenia Dilingkungan Sekolah (SMA)........................................ 8
BAB
III PENUTUP
3.1.Kesimpulan.................................................................................................................... 9
3.2.Saran
............................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 10
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Skizofrenia merupakan
gangguan perkembangan
neurologis yang ditandai adanya defisit kognitif,afek
dan relasi sosial. Gangguan ini
ditandai dengan adanya gejala
psikosis, seperti halusinasi dan waham. Sedangkan,
gangguan kognisi atau gangguan
pengelolaan informasi merupakan
salah satu gejala yang
dapat muncul namun
kurang jelas. Prevalensi
skizofrenia dapat terjadi pada semua
kalangan umur dan
puncaknya pada usia 20
hinga 30 tahun,
dimana pada laki-laki lebih
awal dari pada perempuan. Semakin
muda seseorang mengalami gangguan
psikosis maka,prognosisnya
semakin buruk. 1,2 skizofrenia masa anak
merupakan suatu gangguan psikiatrik
berat yang mempengaruhi hampir
seluruh aspek kehidupan anak.
Skizofrenia masa anak merupakan kasus yang jarang ditemukan,
terutama pada anak
di bawah usia
10 tahun,namun jumlah kasus
bertambah seiring dengan bertambahnya
usia sampai menjelang usia
dewasa muda.
Skizofrenia pada anak-anak ditandai dengan onset gejala
psikotik pada usia 12 tahun.
3,4 Prevalensi
skizofrenia pada anakanak
dilaporkan kurang dari 1 kasus pada 10.000 anak, sedangkan pada usia 13-18
tahun, prevalensi skizofrenia
meningkat. Gejala-gejala skizofrenia
yang muncul pada onset anak-anak
sama dengan remaja dan
dewasa. Namun dengan adanya komorbiditas gangguan
kejiwaan,termasuk gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (AttentionDeficit/Hyperactivity Disorder,
ADHD),gangguan depresi, dan
gangguan cemas dapat meningkatkan
fitur fenomena skizofrenia
tersebut.3,4 Penyebab dari skizofrenia belum dapat dipastikan,
namun beberapa teori mengatakan skizofrenia
pada anak disebabkan oleh
faktor genetik dan lingkungan. Selain itu
juga diketahui bahwa adanya
kelainan pada anatomi otak,
neurotransmiter, infeksi, dan trauma merupakan
beberapa penyebab dari
skizofrenia.3,4 Kebanyakan anak-anak dengan skizofrenia memiliki
gangguan perilaku dan kognisi
sebelum onset gejala
khas psikosis. Sekitar sepertiga
anak-anak menunjukkan gejala kurangnya perhatian, hiperaktif,
agresi, atau kemarahan. Sebagian
anak-anak sebelumnya telah didiagnosis
dengan autisme, ADHD, dan gangguan kejiwaan yang lainnya.
Pada salah satu
studi, gejala psikosis muncul
rata-rata 2,5 tahun setelah
gejala awal, dan diagnosis
skizofrenia ditegakkan rata-rata
2 tahun setelah onset psikosis. 4
Gangguan ini menghambat
proses neurodevelopmental,
akibatnya dapat memberi dampak
yang merusak fungsi kognitif, afektif dan
sosial. Deteksi dini diperlukan agar dapat dilakukan pengenalan gejala-gejala, sehingga diagnosis dini dapat
ditegakkan dan dilakukan
intervensi sedini mungkin.
Hal ini diharapkan
dapat mencegah gangguan 3 ini
menjadi kronis. Pada deteksi
dini yang harus diperhatikan
adalah: manifestasi gangguan akut,
faktor dankondisi yang melatar belakangi, dan faktor yang dapat menentukan relaps. 4,5
Meskipun skizofrenia ditegakkan berdasarkan diagnosis klinis, diagnosis skizofrenia pada
masa anak tidaklah mudah. Hal
ini didasarioleh minimnya kemampuan anak
mengekspresikan secara
verbal apa yang
merekarasakan atau apa yang mereka alami, oleh karena itu gejala
psikotik pada anak
tidaklah jelas seperti pada remaja
atau orang dewasa.
Berdasarkan uraian tersebut maka diagnosis
penyakit psikotik pada anak
harus hati-hati sehingga
intervensi yang tepat dapat diberikan sejak dini.
1.2 Rumusan
masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan Skizofrenia?
2. Apa
faktor penyebab penyakit Skizofrenia?
3. Bagaimana
cara mencegah penyakit Skizofrenia?
4. Bagaimana
khasus Skizofrenia di lingkugan sekolah (SMA)?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa itu Skizofrenia
2. Untuk
mengetahui faktor penyebab penyakit Skizofrenia
3. Untuk
mengetahui cara pencegahan penyakit Skizofrenia
4. Untuk
mengetahui khasus Skizofrenia di lingkungan sekolah (SMA)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Scizophrenia
Scizophrenia adalah gangguan jiwa
dengan gejala utama berupa waham (keyakinan akan suatu hal yang sebenarnya
tidak pernah terjadi atau tidak nyata) dan halusinasi (keyakinan bahwa
penderita melihat atau mendengar sesuatau yang sebenarnya tidak ada atau tidak
nyata). Adapun 3 simptom negatif yang diakui DSM-IV sebagai inti dari
scizophrenia adalah :
-Affective Flattening : Hilangnya respons-respons emosional terhadap
lingkungan. (ekspresi wajah yang tidak pernah berubah untuk waktu yang lama,
berbicara dengan nada yang monoton, tidak ada kontak mata ketika berbicara
dengan orang lain).
-Alogia : Berkurangnya bahkan hilangnya aktivitas berbicara. (penderita
tidak menunjukkan inisiatif untuk berkomunikasi dengan orang lain, jika ditanya
penderita akan menjawab dengan singkat/jawaban yang tidak sesuai dengan
pertanyaan).
-Avolition : Ketidakmampuan untuk
bertahan dalam melakukan aktivitas yang mengarah pada tujuan, baik dalam
masalah pekerjaan, sekolah, dll. (penderita dapat duduk sepanjang hari tanpa
meakukan apapun, menarik diri dari lingkungan sosial, terisolasi secara
sosial).
Terdapat 3 tipe schizophrenia :
·Tipe paranoid (Pikiran-pikiran yang
absurd/tidak ada pegangan, tidak logis, delusi berganti-ganti, tidak dapat
diduga, perasaan yang berlebihan mengenai pentingnya kebesaran, kekuasaan,
pengetahuan, atau identitas diri mereka).
·Tipe katatonik (Penarikan diri dari
lingkungan sosial yang bersifat ekstrim, yang paling sering adalah gerakan diam
untuk jangka panjang). Beberapa penderita yang suggestible/mudah disugesti
secara otomatis mengikuti perintah atau menirukan tingkah laku/echopraxia atau
menirukan kata-kata orang lain/echolalia-Hendro Prakoso Budisantoso, 1997).
·Tipe disorganisasi (hati-hati yang
berlebihan, atau terpaku pada masalah-masalah religius dan filosofis. Tipe ini
tidak memiliki bentuk delusi atau halusinasi yang jelas, pikiran dan tingkah
lakunya sangat tidak terorganisir/disorganized. Misalnya : cara bicara yang
sulit dipahami, tidak sistematis, emosi yang meledak-ledak seperti tiba-tiba
tertawa atau menangis).
Kriteria Schizophrenia dalam
DSM-IV-TR
-Terdapat dua atau lebih simptom-simptom
berikut ini dengan porsi waktu yang signifikan selama sekurang-kurangnya satu
bulan: waham, halusinasi, disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku atau
perilaku katatonik, simtom-simtom negatif.
-Keberfungsian sosial dan pekerjaan
menurun sejak timbulnya gangguan.
-Gejala-gejala gangguan terjadi
selama sekurang-kurangnya enam bulan ; sekurang-kurangnya satu bulan untuk
simptom-simtpom pada poin pertama dalam bentuk ringan. Selebihnya
simptom-simptom negatif atau simptom lain pada poin pertama dalam bentuk
ringan.
2.2 Faktor-Faktor Penyebab Penyakit Schizophrenia
1.
Faktor Keturunan : Adanya lebih banyak gen yang
terganggu meningkatkan kemungkinan berkembangnya schizophrenia dan meningkatkan
keparahan gangguan tersebut.
2.
Struktur Otak Abnormal : Sejak dahulu para ilmuan
meyakini ada yang berbeda pada otak orang-orang dengan schizophrenia. Struktur
utama otak yang abnormal sesuai dengan schizophrenia adalah pembesaran
ventrikel (enlarged verticle). Ventrikel adalah ruang yang berisi cairan di
dalam otak. Pembesaran ini memicu terjadinya atropi (berhentinya pertumbuhan)
dan deteriorasi di jaringan otak lainnya. Orang-orang schizophrenia dengan
pembesaran ventrikel cenderung menunjukkan penurunan fungsi sosial, emosi dan
perilaku, lama sebelum mereka mengembangkan simptom utama atau inti (core
symptom) dari schizophrenia.
3.
Komplikasi Kelahiran : Komplikasi yang serius selama
periode prenatal dan masalah-masalah berkaitan dengan kandungan pada saat
kelahiran merupakan hal yang lebih sering terjadi dalam sejarah penderita schizophrenia.
4.
Perspektif Lintas Budaya : Kultur (budaya) sangat
beragam dalam menjelaskan schizophrenia. Terdapat keyakinan bahwa gangguan
disebabkan gangguan biologis yang bercampur dengan stress, kurangnya
pengetahuan spiritual dan dinamika keluarga.
5.
Neurotransmitter : Neurotransmitter dopamine dianggap
memainkan peran dalam schizophrenia (Conklin & Lacono, 2002). Teori awal
dari dopamine menyatakan bahwa simptom-simptom schizophrenia disebabkan oleh
kelebihan jumlah dopamine di otak, khususnya di daerah lobus frontalis dan
sistem limbik.
2.3 Cara
Mencegah Penyakit Schizhoprenia
1.Pencegahan Primer Dilakukan dengan
cara mendorong perkembangan kesehatan dan perilaku penanganan yang efektif baik
pada taraf biologis, psikososial dan sosiokultural. (contoh : pemeliharaan
kesehatan, pemeliharaan prenatal dan pascanatal dan pendidikan kepada
masyarakat mengenai kesehatan mental).
2.Pencegahan Sekunder Prevensi taraf
ini lebih menekankan pada deteksi dini dan pengenalan penanganan perilaku
maladaptif dalam keluarga dan komunitas.
3.Pencegahan Tersier Pencegahan
tersier dilakukan setelah gangguan muncul, pencegahan ini lebih melibatkan
dukungan dan penanganan yang tepat kepada pasien dengan maksud mencegah
gangguan menjadi kronik dan memungkinkan individu kembali pulang secepat
mungkin.
2.4 Contoh
Kasus penyakit schizophrenia disekolah (SMA)
Joe adalah siswa yang baik di sepanjang masa
SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan
mendapatkan pujian pada tiap semesternya. Ia ramah dan populer. Menjelang akhir
semester pertama di maktab (college)-nya, semuanya mulai berubah. Joe tak lagi
makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri
di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti
menghadiri kuliah. Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus
membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa
kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan
sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi
rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon
dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan
sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk
menipunya. Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada
kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan
apapun yang ia pikirkan. Saat Joe sedang sendirian di kamarnya, ia dapat
mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat
memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan :
Skizofrenia merupakan
gangguan perkembangan
neurologis yang ditandai adanya defisit kognitif,afek
dan relasi sosial. Gangguan ini
ditandai dengan adanya gejala
psikosis, seperti halusinasi dan
waham. Sedangkan, gangguan kognisi atau
gangguan pengelolaan informasi
merupakan salah satu
gejala yang dapat muncul
namun kurang jelas.
Faktor-Faktor Penyebab Penyakit
Schizophrenia
1.
Faktor Keturunan
2.
Struktur Otak Abnormal
3.
Komplikasi Kelahiran
4.
Perspektif Lintas Budaya
5.
Neurotransmitter
Cara Mencegah Penyakit Schizhoprenia
1.Pencegahan Primer
2.Pencegahan Sekunder
3.Pencegahan Tersier
3.2 Saran :
Marilah kita mengenali
lebih lanjut apa penyebab-penyebab terjadinya schizophrenia supaya kita dapat
mencegah terjadinya schizophrenia pada orang-orang yang kita sayangi, selain
itu juga agar kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana ciri-ciri orang
yang mengalami schizophrenia. Agar dapat diproses dengan cepat.
Daftar
Pustaka
Nolen, S.&Hoeksema.Abnormal Psychology (4th edition). New York: Mc Graw
Hill. Nevid, J.S; Rathus, S.A; Greene, R.A. (2000). Abnormal Psychology In A
Changing World (4th edition). New Jersey : Prentice Hall.
Wiramihardja, S.A. (2007). Pengantar Psikologi Abnormal (Cetakan Kedua).
Bandung : Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar