Minggu, 02 April 2017

schizophernia di lingkungan sekolah


SCHIZOPHRENIA DILINGKUNGAN SEKOLAH (SMA)
PSIKOLOGI ABNORMAL

 

Disusun Oleh :
Kelompok 4

Sistria Rika Astuti                 (A1E116095)


Dosen Pembimbing :
Fadzlul,S.Psi.,M.Psi.
Marlita Andhika Rahman,S.Psi.,M.Psi

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN AJARAN 2016/2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah perkembangan emosi pada remaja tepat pada waktunya.
            Laporan ini disusun sebagai tugas mata kuliah Psikologi Abnormal. Penulis berusaha menyusun makalah  ini dengan segala kemampuan , namun penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan maupun segi penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati demi perbaikan tugas selanjutnya.
            Semoga laporan ini bisa memberikan inormasi dan menambah wawasan mengenai perkembanagan emosi pada remaja. Atas perhatian dan kesempatannya penulis ucapkan terima kasih.






Jambi,    April 2017


Kelompok 4











Daftar isi
Kata Pengantar.................................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................................. 3
BAB I          PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang.............................................................................................................. 4
1.2.  Rumusan masalah......................................................................................................... 5
1.3.  Tujuan........................................................................................................................... 5
BAB II        PEMBAHASAN
2.1.pengertian Schizophrenia............................................................................................... 6
2.2. Faktor-faktor Penyakit Schizophrenia.......................................................................... 7
2.3.Pencegahan Penyakit Schizophrenia............................................................................. 8
2.4.Contoh Kasus Schizophrenia Dilingkungan Sekolah (SMA)........................................ 8
BAB III       PENUTUP
3.1.Kesimpulan.................................................................................................................... 9
3.2.Saran ............................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 10















BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                        
1.1 Latar belakang
Skizofrenia  merupakan  gangguan perkembangan  neurologis  yang  ditandai adanya defisit  kognitif,afek  dan  relasi sosial. Gangguan  ini  ditandai  dengan adanya gejala psikosis, seperti halusinasi dan  waham.  Sedangkan,  gangguan kognisi  atau  gangguan  pengelolaan informasi merupakan  salah  satu  gejala yang  dapat  muncul  namun  kurang  jelas. Prevalensi skizofrenia dapat terjadi pada semua  kalangan  umur  dan  puncaknya pada  usia  20  hinga  30  tahun,  dimana pada  laki-laki  lebih  awal  dari pada perempuan.  Semakin  muda  seseorang mengalami  gangguan  psikosis  maka,prognosisnya semakin buruk. 1,2 skizofrenia  masa  anak  merupakan suatu  gangguan  psikiatrik  berat  yang mempengaruhi  hampir  seluruh  aspek kehidupan  anak.  Skizofrenia  masa  anak merupakan kasus yang jarang ditemukan, terutama  pada  anak  di  bawah  usia  10 tahun,namun  jumlah  kasus  bertambah seiring  dengan  bertambahnya  usia sampai  menjelang usia dewasa  muda.
Skizofrenia pada  anak-anak ditandai dengan onset gejala psikotik pada usia 12 tahun.
3,4 Prevalensi  skizofrenia pada  anakanak dilaporkan kurang dari 1 kasus pada 10.000 anak, sedangkan pada usia 13-18 tahun,  prevalensi  skizofrenia  meningkat. Gejala-gejala skizofrenia  yang muncul pada  onset  anak-anak  sama  dengan remaja dan dewasa.  Namun  dengan adanya komorbiditas gangguan kejiwaan,termasuk gangguan pemusatan perhatian dan  hiperaktivitas  (AttentionDeficit/Hyperactivity  Disorder,  ADHD),gangguan  depresi,  dan  gangguan  cemas dapat  meningkatkan  fitur  fenomena skizofrenia tersebut.3,4 Penyebab  dari  skizofrenia belum dapat  dipastikan,  namun  beberapa  teori mengatakan  skizofrenia  pada  anak disebabkan  oleh  faktor  genetik  dan lingkungan. Selain  itu  juga  diketahui bahwa  adanya  kelainan  pada  anatomi otak,  neurotransmiter,  infeksi, dan trauma  merupakan  beberapa  penyebab dari skizofrenia.3,4 Kebanyakan  anak-anak  dengan skizofrenia  memiliki  gangguan  perilaku dan  kognisi  sebelum  onset  gejala  khas psikosis.  Sekitar  sepertiga  anak-anak menunjukkan  gejala  kurangnya perhatian,  hiperaktif,  agresi,  atau kemarahan.  Sebagian  anak-anak sebelumnya  telah  didiagnosis  dengan autisme, ADHD, dan gangguan kejiwaan yang  lainnya.  Pada  salah  satu  studi, gejala  psikosis  muncul  rata-rata  2,5 tahun  setelah  gejala  awal,  dan  diagnosis skizofrenia  ditegakkan  rata-rata  2  tahun setelah onset psikosis. 4 Gangguan  ini  menghambat  proses neurodevelopmental,  akibatnya  dapat memberi  dampak  yang  merusak  fungsi kognitif, afektif  dan  sosial.  Deteksi  dini diperlukan  agar  dapat  dilakukan pengenalan  gejala-gejala,  sehingga diagnosis dini  dapat  ditegakkan  dan dilakukan intervensi sedini mungkin.
Hal ini diharapkan dapat mencegah gangguan 3 ini  menjadi  kronis.  Pada deteksi  dini yang  harus  diperhatikan  adalah: manifestasi  gangguan  akut,  faktor dankondisi  yang  melatar belakangi,  dan faktor yang dapat menentukan relaps. 4,5 Meskipun  skizofrenia  ditegakkan berdasarkan diagnosis  klinis, diagnosis skizofrenia  pada  masa  anak  tidaklah mudah.  Hal  ini  didasarioleh  minimnya kemampuan  anak  mengekspresikan secara  verbal  apa  yang  merekarasakan atau apa yang mereka alami, oleh karena itu  gejala  psikotik  pada  anak  tidaklah jelas seperti  pada  remaja  atau  orang dewasa. Berdasarkan  uraian tersebut maka  diagnosis  penyakit  psikotik  pada anak  harus  hati-hati  sehingga  intervensi yang tepat dapat diberikan sejak dini.


1.2 Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan Skizofrenia?
2.      Apa faktor penyebab penyakit  Skizofrenia?
3.      Bagaimana cara mencegah penyakit Skizofrenia?
4.      Bagaimana khasus Skizofrenia di lingkugan sekolah (SMA)?


1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu Skizofrenia
2.      Untuk mengetahui faktor penyebab penyakit Skizofrenia
3.      Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit Skizofrenia
4.      Untuk mengetahui khasus Skizofrenia di lingkungan sekolah (SMA)









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Scizophrenia

Scizophrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham (keyakinan akan suatu hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau tidak nyata) dan halusinasi (keyakinan bahwa penderita melihat atau mendengar sesuatau yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata). Adapun 3 simptom negatif yang diakui DSM-IV sebagai inti dari scizophrenia adalah :
-Affective Flattening : Hilangnya respons-respons emosional terhadap lingkungan. (ekspresi wajah yang tidak pernah berubah untuk waktu yang lama, berbicara dengan nada yang monoton, tidak ada kontak mata ketika berbicara dengan orang lain).
-Alogia : Berkurangnya bahkan hilangnya aktivitas berbicara. (penderita tidak menunjukkan inisiatif untuk berkomunikasi dengan orang lain, jika ditanya penderita akan menjawab dengan singkat/jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan).
-Avolition : Ketidakmampuan untuk bertahan dalam melakukan aktivitas yang mengarah pada tujuan, baik dalam masalah pekerjaan, sekolah, dll. (penderita dapat duduk sepanjang hari tanpa meakukan apapun, menarik diri dari lingkungan sosial, terisolasi secara sosial).
Terdapat 3 tipe schizophrenia :
·Tipe paranoid (Pikiran-pikiran yang absurd/tidak ada pegangan, tidak logis, delusi berganti-ganti, tidak dapat diduga, perasaan yang berlebihan mengenai pentingnya kebesaran, kekuasaan, pengetahuan, atau identitas diri mereka).
·Tipe katatonik (Penarikan diri dari lingkungan sosial yang bersifat ekstrim, yang paling sering adalah gerakan diam untuk jangka panjang). Beberapa penderita yang suggestible/mudah disugesti secara otomatis mengikuti perintah atau menirukan tingkah laku/echopraxia atau menirukan kata-kata orang lain/echolalia-Hendro Prakoso Budisantoso, 1997).
·Tipe disorganisasi (hati-hati yang berlebihan, atau terpaku pada masalah-masalah religius dan filosofis. Tipe ini tidak memiliki bentuk delusi atau halusinasi yang jelas, pikiran dan tingkah lakunya sangat tidak terorganisir/disorganized. Misalnya : cara bicara yang sulit dipahami, tidak sistematis, emosi yang meledak-ledak seperti tiba-tiba tertawa atau menangis).
Kriteria Schizophrenia dalam DSM-IV-TR
 -Terdapat dua atau lebih simptom-simptom berikut ini dengan porsi waktu yang signifikan selama sekurang-kurangnya satu bulan: waham, halusinasi, disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku atau perilaku katatonik, simtom-simtom negatif.
-Keberfungsian sosial dan pekerjaan menurun sejak timbulnya gangguan.
-Gejala-gejala gangguan terjadi selama sekurang-kurangnya enam bulan ; sekurang-kurangnya satu bulan untuk simptom-simtpom pada poin pertama dalam bentuk ringan. Selebihnya simptom-simptom negatif atau simptom lain pada poin pertama dalam bentuk ringan.

2.2  Faktor-Faktor Penyebab Penyakit Schizophrenia

1.      Faktor Keturunan : Adanya lebih banyak gen yang terganggu meningkatkan kemungkinan berkembangnya schizophrenia dan meningkatkan keparahan gangguan tersebut.
2.      Struktur Otak Abnormal : Sejak dahulu para ilmuan meyakini ada yang berbeda pada otak orang-orang dengan schizophrenia. Struktur utama otak yang abnormal sesuai dengan schizophrenia adalah pembesaran ventrikel (enlarged verticle). Ventrikel adalah ruang yang berisi cairan di dalam otak. Pembesaran ini memicu terjadinya atropi (berhentinya pertumbuhan) dan deteriorasi di jaringan otak lainnya. Orang-orang schizophrenia dengan pembesaran ventrikel cenderung menunjukkan penurunan fungsi sosial, emosi dan perilaku, lama sebelum mereka mengembangkan simptom utama atau inti (core symptom) dari schizophrenia.
3.      Komplikasi Kelahiran : Komplikasi yang serius selama periode prenatal dan masalah-masalah berkaitan dengan kandungan pada saat kelahiran merupakan hal yang lebih sering terjadi dalam sejarah penderita schizophrenia.
4.      Perspektif Lintas Budaya : Kultur (budaya) sangat beragam dalam menjelaskan schizophrenia. Terdapat keyakinan bahwa gangguan disebabkan gangguan biologis yang bercampur dengan stress, kurangnya pengetahuan spiritual dan dinamika keluarga.
5.      Neurotransmitter : Neurotransmitter dopamine dianggap memainkan peran dalam schizophrenia (Conklin & Lacono, 2002). Teori awal dari dopamine menyatakan bahwa simptom-simptom schizophrenia disebabkan oleh kelebihan jumlah dopamine di otak, khususnya di daerah lobus frontalis dan sistem limbik.

2.3 Cara Mencegah Penyakit Schizhoprenia

1.Pencegahan Primer Dilakukan dengan cara mendorong perkembangan kesehatan dan perilaku penanganan yang efektif baik pada taraf biologis, psikososial dan sosiokultural. (contoh : pemeliharaan kesehatan, pemeliharaan prenatal dan pascanatal dan pendidikan kepada masyarakat mengenai kesehatan mental).
2.Pencegahan Sekunder Prevensi taraf ini lebih menekankan pada deteksi dini dan pengenalan penanganan perilaku maladaptif dalam keluarga dan komunitas.
3.Pencegahan Tersier Pencegahan tersier dilakukan setelah gangguan muncul, pencegahan ini lebih melibatkan dukungan dan penanganan yang tepat kepada pasien dengan maksud mencegah gangguan menjadi kronik dan memungkinkan individu kembali pulang secepat mungkin.

2.4 Contoh Kasus penyakit schizophrenia disekolah (SMA)

 Joe adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya. Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di maktab (college)-nya, semuanya mulai berubah. Joe tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Joe sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan :
           
            Skizofrenia  merupakan  gangguan perkembangan  neurologis  yang  ditandai adanya defisit  kognitif,afek  dan  relasi sosial. Gangguan  ini  ditandai  dengan adanya gejala psikosis, seperti halusinasi dan  waham.  Sedangkan,  gangguan kognisi  atau  gangguan  pengelolaan informasi merupakan  salah  satu  gejala yang  dapat  muncul  namun  kurang  jelas.

            Faktor-Faktor Penyebab Penyakit Schizophrenia
1.      Faktor Keturunan
2.      Struktur Otak Abnormal
3.      Komplikasi Kelahiran
4.      Perspektif Lintas Budaya
5.      Neurotransmitter

 Cara Mencegah Penyakit Schizhoprenia
1.Pencegahan Primer
2.Pencegahan Sekunder         
3.Pencegahan Tersier

3.2 Saran :

            Marilah kita mengenali lebih lanjut apa penyebab-penyebab terjadinya schizophrenia supaya kita dapat mencegah terjadinya schizophrenia pada orang-orang yang kita sayangi, selain itu juga agar kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana ciri-ciri orang yang mengalami schizophrenia. Agar dapat diproses dengan cepat.




Daftar Pustaka

Nolen, S.&Hoeksema.Abnormal Psychology (4th edition). New York: Mc Graw Hill. Nevid, J.S; Rathus, S.A; Greene, R.A. (2000). Abnormal Psychology In A Changing World (4th edition). New Jersey : Prentice Hall.
Wiramihardja, S.A. (2007). Pengantar Psikologi Abnormal (Cetakan Kedua). Bandung : Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar