MAKALAH PSIKOLOGI
SOSIAL
IDENTITAS
SOSIAL
DISUSUN
OLEH :
Sistria Rika Astuti (A1E116095)
DOSEN PEMBIMBING : Fadzlul, S.Psi,M.Psi
Fellicia ayu
sekonda, S.Psi,M.Pd
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN
AJARAN 2016/2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesikan makalah yang berjudul “IDENTITAS SOSIAL” dapat terselesaikan tapat pada
waktunya.
Makalah
ini disusun sebagai tugas kelompok mata kuliah Psikologi Sosial. Kami berusaha
menyusun makalah ini dengan segala keampuan, namun kami menyadari bahwa makalah
ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan maupun segi
penyusunan. Olah karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami
terima dengan senanghati demi perbaikan makalah selanjutnya.
Semoga
makalah ini bisa memberika informasi dan menambah wawasan mengenai Identitas Sosial. Atas perhatian
dan kesempatannya kami ucapkan terima kasih.
Jambi, 10 Maret 2017
Kelompok 5
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang 4
1.2 Rumusan
Masalah ....................................................................................................... 4
1.3 Tujuan
dan manfaat
........................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
identitas social ....................................................................................... 5
2.2 Komponen
pembentuk identitas social........................................................................ 5
2.3 Karakter
identitas social.............................................................................................. 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan........................................................................................................................ 9
Daftar
pustaka................................................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada hakikatnya
manusia hidup tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, manusia senantiasa
membutuhkan orang lain. Pada akhirnya manusia hidup secara
berkelompok-kelompok. Manusia dalam bersekutu atau berkelompok akan membentuk
suatu organisasi yang berusaha mengatur dan mengarahkan tercapainya tujuan
hidup yang besar. Dimulai dari lingkungan terkecil sampai pada lingkungan
terbesar. Pada mulanya manusia hidup dalam kelompok keluarga. Selanjutnya
mereka membentuk kelompok lebih besar lagi sperti suku, masyarakat dan bangsa.
Kemudian manusia hidup bernegara. Mereka membentuk negara sebagai persekutuan
hidupnya. Negara merupakan suatu organisasi yang dibentuk oleh kelompok manusia
yang memiliki cita-cita bersatu, hidup dalam daerah tertentu, dan mempunyai
pemerintahan yang sama. Negara dan bangsa memiliki pengertian yang berbeda.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu
identitas sosial?
2. Bagaimanakah komponen
pembentuk identitas sosial?
3. bagaimana karakter ideentitas sosial?
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT
Pembuatan makalah ini bertujuan
untuk :
1. Mengetahui
pengertian identitas sosial
2. Mengetahui komponen
pembentuk identitas sosial
3. Mengetahui bagaimana
karakter identitas sosial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Identitas Sosial
Taylor, Peplau, Sears (2009) menyatakan bahwa pengetahuan
tentang diri berasal dari banyak sumber, dan banyak dari pengetahuan diri kita
berasal dari sosialisasi. Sosialisasi adalah bagaimana seseorang mendapat aturan,
standar, dan nilai kelompoknya, dan kulturnya.
Menurut Burke & Stets (1998), identitas sosial merupakan
kategorisasi-diri dalam hal kelompok, dan lebih terfokus pada makna yang
terkait dalam menjadi anggota kategori sosial. Dengan penekanan yang lebih
besar pada identifikasi kelompok, berfokus pada hasil kognitif seperti
ethnosentrisme, atau kohesivitas kelompok.
Kemudian Tajfel (dalam Taylor, Peplau & Sears, 2009)
menyatakan bahwa social Identity adalah bagian dari konsep diri individu yang
berasal dari keanggotaannya dalam satu kelompok sosial (atau kelompok-kelompok
sosial) dan nilai serta signifikasi emosional yang ada dilekatkan dalam
keanggotaan itu.
Selanjutnya Ellemers (1993) menyatakan bahwa teori identitas
sosial merupakan identifikasi ingroup, yang merupakan sumber penjelasan
terjadinya konflik antar kelompok. Konsep identitas sosial digunakan untuk
merujuk ke bagian dari konsep-diri yang berasal dari kategori sosial orang yang
terkait. Ellemers, Kortekaas & Ouwerkerk (1999) juga menyatakan bahwa ada 3
komponen yang berkontribusi dalam pembentukan identitas sosial, yaitu cognitive
(kesadaran kognitif seseorang mengenai keanggotaan nya dalam sebuah kelompok –
self categorization). Kedua, evaluative component (nilai konotasi positif atau
negatif yang melekat pada keanggotaan kelompok – group self esteem). Yang
ketiga, emotional component (rasa keterlibatan emosional dengan kelompok –
affective commitment).
Dinamika identitas sosial lebih lanjut, ditetapkan secara
lebih sistematis oleh Tajfel dan Turner pada tahun 1979. Mereka membedakan tiga
proses dasar terbentuknya identitas sosial, yaitu social identification, social
categorization, dan social comparison.
A. Identification
Ellemers (1993) menyatakan bahwa identifikasi sosial,
mengacu pada sejauh mana seseorang mendefinisikan diri mereka (dan dilihat oleh
orang lain) sebagai anggota kategori sosial tertentu. Posisi seseorang dalam
lingkungan, dapat didefinisikan sesuai dengan “categorization” yang ditawarkan.
Sebagai hasilnya, kelompok sosial memberikan sebuah identification pada anggota
kelompok mereka, dalam sebuah lingkungan sosial. Ketika seseorang
teridentifikasi kuat dengan kelompok sosial mereka, mereka mungkin merasa
terdorong untuk bertindak sebagai anggota kelompok, misalnya, dengan
menampilkan perilaku antar kelompok yang diskriminatif. Aspek terpenting dalam
proses identification ialah, seseorang mendefinisikan dirinya sebagai anggota
kelompok tertentu. Selanjutnya Ellemers, , Kortekaas & Ouwerkerk (1999)
menambahkan bahwa identification terutama digunakan untuk merujuk kepada
perasaan komitmen afektif kepada kelompok (yaitu komponen emosional), daripada
kemungkinan untuk membedakan antara anggota pada kategori sosial yang berbeda
(komponen kognitif).
Hogg & Abrams (1990) juga menyatakan bahwa dalam
identifikasi, ada pengetahuan dan nilai yang melekat dalam anggota kelompok
tertentu yang mewakili identitas sosial individu. Selain untuk meraih identitas
sosial yang positif, dalam melakukan identifikasi, setiap orang berusaha untuk
memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dalam suatu kelompok.
B. Categorization
Ellemers (1993) menyatakan bahwa categorization menunjukkan
kecenderungan individu untuk menyusun lingkungan sosialnya dengan membentuk
kelompok-kelompok atau kategori yang bermakna bagi individu. Sebagai
konsekuensi dari categorization ini, perbedaan persepsi antara unsur-unsur
dalam kategori yang sama berkurang, sedangkan perbedaan antara kategori (out
group) lah yang lebih ditekankan. Dengan demikian, categorization berfungsi
untuk menafsirkan lingkungan sosial secara sederhana. Sebagai hasil dari proses
categorization, nilai-nilai tertentu atau stereotip yang terkait dengan
kelompok, dapat pula berasal dari individu anggota kelompok itu juga.
Kategorisasi dalam identitas sosial memungkinkan individu
menilai persamaan pada hal-hal yang terasa sama dalam suatu kelompok (Tajfel
& Turner, dalam Hogg & Vaughan, 2002). Adanya social categorization
menyebabkan adanya self categorization. Self categorization merupakan asosiasi
kognitif diri dengan kategori sosial (Burke & Stets, 1998) yang merupakan
keikutsertaan diri individu secara spontan sebagai seorang anggota kelompok. Oleh
karena itu dalam melakukan kategorisasi, terciptalah conformity, karena
memungkinkan individu untuk mempertahankan identitas sosialnya dan
mempertahankan keanggotaannya (Tajfel & Turner, dalam Hogg & Abrams,
1990).
Tajfel dan Turner (dalam Hogg, 2003) menyatakan,
kategorisasi membentuk identitas sosial yang dapat menjelaskan hubungan antar
kelompok.
- Kategorisasi menekankan pada hal-hal yang terasa sama di antara anggota kelompok.
- Kategorisasi dapat meningkatkan persepsi dalam homogenitas dalam kelompok. Ini lah yang memunculkan streotype dalam kelompok.
- Dalam melakukan kategorisasi, anggota kelompok cenderung melakukan polarisasi dua kutub secara ekstrim, kami (ingroup) atau mereka (outgroup). Sehingga setiap anggota kelompok berusaha mempertahankan keanggotaannya dengan melakukan conformity
C. Social Comparison
Ketika sebuah kelompok merasa lebih baik dibandingkan dengan
kelompok lain, ini dapat menyebabkan identitas sosial yang positif. Ellemers
(1993). Identitas sosial dibentuk melalui perbandingan sosial. Perbandingan
sosial merupakan proses yang kita butuhkan untuk membentuk identitas sosial
dengan memakai orang lain sebagai sumber perbandingan, untuk menilai sikap dan
kemampuan kita. Melalui perbandingan sosial identitas sosial terbentuk melalui penekanan
perbedaan pada hal-hal yang terasa berbeda pada ingroup dan outgroup (Tajfel
& Turner, dalam Hogg & Abrams, 1990).
Menurut Hogg & Abrams (1990), dalam perbandingan sosial,
individu berusaha meraih identitas yang positif jika individu bergabung dalam
ingroup.
Keinginan untuk meraih identitas yang positif dalam
identitas sosial ini merupakan pergerakan psikologis dari perilaku individu
dalam kelompok. Proses perbandingan sosial menjadikan seseorang mendapat
penilaian dari posisi dan status kelompoknya
Perbandingan sosial dalam tingkah laku antar kelompok,
menurut Tajfel (dalam Hogg, 2003), menekankan pada hal-hal berikut:
- Penilaian yang ekstrim pada outgroup, dan kelompok minoritas ataupun subdominant lebih menunjukkan diferensiasi daripada kelompok mayoritas atau dominant.
- Adanya perbandingan sosial memberikan penekanan tingkah laku yang berbeda antar kelompok (integroup differentiation).
- Individu yang berada pada kelompok sub-dominant selalu menaikkan harga diri kelompoknya (identitas sosial), dengan cara menurunkan derajat kelompok lain.
Hogg & Vaughan (2002) menyatakan bahwa identitas sosial
diasosiasikan dengan tingkah laku kelompok, yang mempunyai karakteristik umum;
ethnocentrism, in-group favoritsm, intergroup differentiation, conformity to
in-group norms, dan group stereotype
A. Ethnocentrism
Ethnocentrism adalah sifat khas daripada individu yang
menganggap kelompoknya lebih superior. Sehingga menumbuhkan kecenderungan
penilaian memandang in-group secara moral lebih baik dan lebih berharga
daripada outgroup.
B. In-group favoritsm
In-group favoritsm adalah perilaku yang menyukai dan menilai
apa yang ada pada kelompoknya (in-group) melebihi kelompok lain (outgroup).
Individu umumnya kan menilai anggota in-group lebih positif. Dengan adanya
in-group favoritsm, individu akan mempunyai solidaritas yang kuat dalam
kelompoknya.
C. Intergroup differentiation
Tingkah laku yang menekankan perbedaan antar kelompok yang
dimilikinya (in-group) dan kelompok lain (outgroup). Perbedaan antar kelompok
akan mempengaruhi persepsi sesorang tentang kelompoknya sendiri dan tentang
kelompok lainnya. Menurut Tajfel (dalam Hogg & Vaugha, 2002), kelompok
dengan kekuasaan yang lebih kecil lebih menyadari perbedaan kekuatannya dan
statusnya.
D. Conformity to in-group norms
Konformitas merupakan kecenderungan untuk memperbolehkan
suatu perilaku untuk dilakukan individu sesuai dengan norma yang ada di dalam
kelompok (in-group) nya. Konformitas merupakan kecenderungan seseorang untuk
mengikuti aturan dan tekanan in-group walaupun tidak ada permintaan langsung
dari kelompok tersebut agar individu merasa diterima oleh kelompoknya.
E. Group stereotype
Stereotype kelompok merupakan kepercayaan tentang
karakteristik kelompok tertentu. Stereoty. Stereotype merupakan persepsi
terhadap suatu kelompok yang kaku (tidak dapat diubah), dan uniform (seragam,
sama-sama dimiliki oleh kelompok sejenis).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi identitas social merupakan identitas sosial yang
melekat pada individu, mengandung adanya rasa memiliki pada suatu kelompok,
melibatkan emosi dan nilai-nilai signifikan pada diri individu terhadap
kelompok tersebut. Dalam melakukan identifikasi, individu dipacu untuk meraih
identitas positif (positive identity) terhadap kelompoknya. Dengan demikian
akan meningkatkan harga diri (self esteem) individu sebagai anggota kelompok.
Sementara demi identitas kelompok (identitas sosial) nya, seseorang atau
sekelompok orang rela melakukan apa saja agar dapat meningkatkan gengsi
kelompok, yang dikenal dengan istilah in-group favoritsm effect. Tajfel (dalam
Hogg, 2003) juga menyatakan bahwa dalam melakukan identifikasi, individu cenderung
memiliki karakteristik ethnocentrism pada kelompoknya.
Daftar
Pustaka
Taylor,
Shelley E & Peplau Letita Anne & Sears David O. (2009). Psikologi
Sosial. Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana
Burke
J. Peter, Stets E. Jan, 1998, Identity Theory And Social Identity Theory.
Washington State University
Hogg,
Michael A & Abrams, D (1990). Social Identification; A Psychology of
Intergroup Relation and Group Process. [On-line]
http://books.google.co.id/books?id=50OV4gqcFA0C&printsec=frontcover&dq=Soci
al+Identification%3B+A+Psychology+of+Intergroup+Relation+and+Group+Proces
s&hl=en&sa=X&ei=kpnnUYr9NMHrrQeAzIHwDQ&redir_esc=y. Diakses
pada 16 Juli 2013
Hogg,
Michael A & Vaughan Graham M. (2002). Social Psychology. Third
Edition. London: Prentice Hall, Pearson Education
Ellemers,
Naomi. (1993). The Influence of Socio-structural Variables on Identity
Management Strategies. European Review of Social Psychology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar