Kamis, 27 April 2017

Makalah Anak Retardasi Mental dan Gifted-psikoloogi abnormal


MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL
RETARDASI MENTAL & GIFTED




 
  

Disusun Oleh :
                Sistria Rika Astuti     (A1E116095)


Dosen Pembimbing :
Fadzul, S.Psi, M.Psi
Marlita Andhika Rahman, S.Psi





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN AJARAN 2016/2017




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesikan makalah  yang berjudul “RETARDASI MENTAL & GIFTED” dapat terselesaikan tapat pada waktunya.
Makalah ini disusun sebagai tugas mata kuliah Psikologi Abnormal. Penyusun berusaha menyusun makalah ini dengan segala keampuan, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan maupun segi penyusunan. Olah karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan penyusun terima dengan senang  hati demi perbaikan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini bisa memberika informasi dan menambah wawasan mengenai Retardasi Mental & Gifted. Atas perhatian dan kesempatannya penyusun ucapkan terima kasih.





Jambi,   April 2017


     Penyusun







DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................... 3
BAB I        PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................................4              
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................ 4
1.3 Tujuan.............................................................................................................. 4
BAB II        PEMBAHASAN
2.1.Retardasi Mental
2.1.1. Pengertian Retardasi Mental........................................................... 5
2.1.2. Contoh Kasus Anak Reterdasi Mental di Lingkungan Sekolah...... 6
2.1.3. Solusi atau Cara Penanganan Untuk Anak Retardasi Mental......... 7
           3.2.Gifted
3.2.1. Pengertian Gifted ........................................................................... 7
3.2.2. Contoh Kasus Anak Gifted di Lingkungan Sekolah...................... 8
3.2.3. Solusi atau Cara Penanganan Untuk Menghadapi Anak Gifted..... 9
BAB III        PENUTUP
4.1. Kesimpulan................................................................................................... 10
4.2. Saran............................................................................................................. 10
DAFTAR PUTAKA........................................................................................... 11





 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Anak-anak yang tergolong memiliki ketidakmampuan dan gangguan adalah sebagai berikut: gangguan organ indra, gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan emosional dan perilaku.
Retardasi mental adalah sebuah kondisi di mana kemampuan intelektual seseorang di bawah rata-rata (IQ di bawah 70) dan terdapat gangguan dalam perilaku adaptif 1. Perilaku adaptif merupakan kemampuan seseorang dalam membina hubungan sosial dan menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa kasus, penyandang retardasi mental biasanya memiliki gangguan lainnya, seperti misalnya down syndrome, fragile-x syndrome, dsb.
Sedangkan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa atau yang sering disebut gifted. Istilah mengenai gifted atau berbakat ini memang sudah sering kita dengar, hanya saja klasifikasi atau kategori dari seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak gifted ini yang perlu kita cermati lebih mendalam.
Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang.
Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.

1.2.Rumusan Masalah
1.      Apa itu Retardasi Mental ?
2.      Jelaskan contoh kasus anak retardasi mental di sekolah ?
3.      Bagaimana solusi atau cara penangan untuk menghadapi anak retardasi mental ?
4.      Apa itu Gifted ?
5.      Jelaskan contoh kasus anak gifted (cerdas berbakat) di sekolah ?
6.      Bagaimana solusi atau cara penangan untuk menghadapi anak gifted ?
1.3.Tujuan
1.      Mengetahui apa itu Retardasi Mental
2.      Mengetahui anak Retardasi mental di sekolah
3.      Mengetahui solusi menghadapi anak retardasi mental
4.      Mengetahui apa itu gifted
5.      Mengetahui anak yang cerdas berbakat (gifted) di sekolah
6.      Mengetahui solusi menghadapi anak cerdas berbakat (gifted)



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Retardasi Mental
2.1.1. Pengertian Retardasi Mental
Keterbelakangan Mental atau lazim disebut Retardasi Mental (RM) adalah suatu keadaan dimana keadaan dengan Intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak-anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah Intelegensi yang terbelakang. Retardasi Mental disebut juga Oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau Tuna Mental. Keadaan tersebut ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata dan disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri atau berprilaku adaptif.
Retardasi Mental sebenarnya bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses Patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap Intelektualitas dan fungsi Adaptif. Retardasi Mental ini dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa maupun gangguan fisik lainnya.
Pada kenyataannya IQ (Intelligence Quotient) bukanlah merupakan satu-satunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya Retardasi Mental. Melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda. Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan Klinis, Prilaku Adaptif dan hasil Tes Psikometrik. Untuk diagnosis, yang pasti harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari lingkungan sosial biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan Retardasi Mental dapat ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik. Wajah pasien dengan Retardasi Mental sangat mudah dikenali seperti Hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah tampak tumpul. Tingkatan retardasi mental mulai dari taraf yang Ringan, Taraf Sedang, Taraf Berat, dan Taraf Sangat Berat. Tingkatannya mulai dari taraf yang Ringan, Taraf Sedang, Taraf Berat, dan Taraf Sangat Berat. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Jika dilihat dari hasil tes IQ, penyandang retardasi mental dapat dibagi menjadi kategori sebagai berikut:
1.      Retardasi Mental Ringan : (IQ sekitar 50-55 sampai 70)
2.      Retardasi Mental Sedang : (IQ sekitar 35-40 sampai 50-55)
3.      Retardasi Mental Berat : (IQ sekitar 20-25 sampai 35-40)
4.      Retardasi Mental Sangat Berat : (IQ dibawah 20 atau 25)
2.1.2. Contoh Kasus Anak Reterdasi Mental di Lingkungan Sekolah
Aji seorang anak berusia 12 tahun yang seharusnya ia sudah kelas enam SD bersama teman-teman sebayanya, tetapi karena kemampuan intelektualnya rendah ia masih saja duduk di kelas empat SD. Menurut gurunya, ia agak lambat dalam mengikuti pelajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, Aji dari kelas satu sampai kelas tiga SD untuk masing-masing tingkat ditempuh dua tahun. Keadaan ini membuat orang tua Aji memindahkan sekolah umum ke sekolah luar biasa.
Contoh di atas merupakan gambaran penting dalam retardasi mental yaitu fungsi intelektual umumnya berada di bawah rata-rata. Diperjelas oleh Munzert (2002) bahwa intelegensi anak yang mempunyai IQ sedang antara 95-100, sedangkan penderita retardasi mental  IQ di bawah 50. Ditambahkan oleh Lombanotobing (2001) bahwa retardasi mental merupakan ganguan perkembangan fungsi penyesuaian yang melibatkan kecakapan dalam komunikasi, merawat diri, tinggal di rumah, kecakapan sosial-interpersonal, bekerja, berekreasi, kesehatan, dan keselamatan.

2.1.3. Solusi atau Cara Penanganan Untuk Menghadapi Anak Retardasi Mental
Penanganan anak dengan retardasi mental memerlukan integrasi multidisiplin untuk membantu anak-anak ini :
  • Remedial Teaching
Perlu pengulangan secara terus menerus di berbagai situasi dan kesempatan untuk membantu mereka memahami hal-hal yang baru dipelajari.
  • Pelayanan Pendidikan
Pendidikan merupakan aspek yang paling penting berkaitan dengan treatment pada anak penderita retardasi mental. Pencapaian hasil yang “baik” bergantung pada interaksi antara guru dan murid. Program pendidikan harus berkaitan dengan kebutuhan anak dan mengacu pada kelemahan dan kelebihan anak. Target pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik saja. Secara umum, anak penderita retardasi mental membutuhkan bantuan dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan untuk mandiri.
  • Kebutuhan-kebutuhan Kesenangan dan Rekreasi
Idealnya, anak penderita retardasi mental dapat berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan rekreasi. Ketika anak tidak ikut dalam aktivitas bermain, pada saat remaja akan kesulitan untuk dapat berinteraksi sosial dengan tepat dan tidak kompetitif dalam aktivitas olahraga. Partisipasi dalam olahraga memiliki beberapa keuntungan, yaitu pengaturan berat badan, perkembangan koordinasi fisik, pemeliharaan kesehatan kardiovaskular, dan peningkatan self-image (gambaran diri).

  • Kontrol Gangguan Tingkah laku
Gangguan tingkah laku dapat dihasilkan dari ekspektasi/harapan orang tua yang tidak tepat, masalah organik, dan atau kesulitan keluarga. Kemungkinan lain, gangguan tingkah laku dapat muncul sebagai usaha anak untuk memperoleh perhatian atau untuk menghindari frustrasi. Dalam mengukur tingkah laku, kita harus mempertimbangkan apakah tingkah lakunya tidak sesuai dengan usia mental anak, daripada dengan usia kronologisnya. Pada  beberapa anak, mereka memerlukan teknik manajemen tingkah laku dan atau penggunaan obat.
  • Mengatasi Gangguan
Jika terdapat gangguan lain- Cerebral palsy; gangguan visual & pendengaran; gangguan epilepsi; gangguan bicara dan gangguan lain dalam bahasa, tingkahlaku dan persepsi- maka yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang optimal adalah diperlukan terapi fisik terus menerus, terapi okupasi, terapi bicara-bahasa, perlengkapan adaptif seperti kaca mata, alat bantu dengar, obat anti epilepsi dan lain sebagainya. Perlu diagnosa yang tepat untuk menetapkan gangguan, diluar hanya masalah taraf intelegensi.
  • Konseling Keluarga
Banyak keluarga yang dapat beradaptasi dengan baik ketika memiliki anak yang menderita retardasi mental, tetapi ada pula yang tidak. Diantaranya karena faktor-faktor yang berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah perkawinan, usia orang tua, self-esteem (harga diri) orang tua, banyaknya saudara kandung, status sosial ekonomi, tingkat kesulitan, harapan orang tua & penerimaan diagnosis, dukungan dari anggota keluarga dan tersedianya program-program dan pelayanan masyarakat.
Salah satu bagian yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan bagi keluarga penderita retardasi mental, agar keluarga dapat tetap menjaga rasa percaya diri dan mempunyai harapan-harapan yang realistik tentang penderita. Perlu penerimaan orang tua mengenai taraf kemampuan yang dapat dicapai anak. Orang tua disarankan untuk menjalani konsultasi dengan tujuan mengatasi rasa bersalah, perasaan tidak berdaya, penyangkalan dan perasaan marah terhadap anak. Selain itu orang tua dapat berbagi informasi mengenai penyebab, pengobatan dan perawatan penderita baik dengan ahli maupun dengan orang tua lain.
  • Evaluasi Secara Berkala
Walaupun retardasi mental adalah suatu gangguan statis, kebutuhan-kebutuhan anak dan keluarga berubah setiap waktu. Seiring perkembangan anak, informasi tambahan harus diberikan kepada orang tua, dan tujuan harus ditetapkan kembali, serta program perlu diatur.

3.2. Gifted
            3.2.1. Pengertian Gifted
Anak yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa (gifted) adalah anak yang secara significant memiliki mempunyai IQ 140 atau lebih, potensi diatas rata-rata dalam bidang kemampuan umum, akademik khusus, kreativitas, kepemimpinan, seni dan/atau olahraga. Anak berkebutuhan khusus atau gifted (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.
Menurut definisi yang dikemukakan Renzuli, anak berbakat (gifted) memiliki pengertian, "Anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas dan kreativitas yang tinggi. Anak berbakat (gifted) ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu di masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).
Pengertian lain menyebutkan bahwa anak gifted adalah anak yang mempunyai potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang anak-anak gifted memiliki pandangan sama ialah keunggulan lebih bersifat bawaan dari pada manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.
Keunggulan lain yang telah disepakati oleh para ahli ialah anak-anak gifted mempunyai superioritas dalam bidang akademik. Kiranya hal itu tidak sulit untuk dimengerti, sebab salah satu syarat penting untuk meraih prestasi akademik tertentu ialah persyaratan intelegensi.
Kepribadian memang merupakan salah satu sumbangan yang dapat diberikan oleh anak atau orang-orang gifted. Dengan dasar kepribadian yang baik maka akan dilahirkan pula karya-karya yang baik pula, sehingga maslahat (manfaat) yang diberikan menjadi lebih besar dibandingkan mudharatnya. Seperti kita ketahui bahwa sebuah karya yang besar tentu saja akan memberikan pengaruh yang besar pula kepada hidup dan kehidupan manusia.
Penggunaan istilah potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berkait erat dengan latar belakang teoritis yang digunakan. Potensi kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan bakat tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual. Proses mengidentifikasi anak cerdas istimewa dilakukan dengan menggunakan pendekatan multi dimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar intelegensi). Batasan yang digunakan adalah anak yang memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan pengukuran menggunakan skala wechsler.

3.2.2. Contoh Kasus Anak Gifted di Lingkungan Sekolah
Ike memiliki minat yang sangat bagus sekali. Dilihat dari nilai sehari – harinya dan nilai rapornya dari beberapa semester, didapatkan informasi bahwa Ike sewaktu kelas 1 selalu mendapat ranking 1 di semester 1 dan semester 2. Namun sayang, pada semester 1 kelas 2, prestasi Ike menurun menjadi peringkat 3 di kelas.
Ike adalah siswa yang aktif di organisasi. Organisasi yang digelutinya yaitu organisasi Pramuka. Sejak SMP Ike mengaku bahwa ia telah mengikuti organisasi ini sebelumnya. Banyak prestasi yang telah diraihnya, sehingga sulit untuk dirincikan satu persatu sebutnya.
Selain itu, diperoleh data bahwa Ike memiliki kemampuan akademik yang sangat baik juga. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Ike ini meraih peringkat pertama selalu di kelas, hal ini yang menjadi bukti bahwa Ike ini memiliki kemampuan yang tinggi dalam akademik.
Ike memiliki cita – cita sebagai dosen. Awalnya, Ike sangat ingin masuk “Jurusan Matematika”. Ike sangat suka membahas dan menyelesaikan soal – soal matematika. Bahkan yang sulit sekalipun, Ike tetap mencintai matematika. Ia selalu memiliki minat yang sangat tinggi untuk menaklukkan soal yang sulit sekalipun. Sehingga Ike selalu memegang suatu motto yaitu “Jangan sebut Ike, kalau Ike tidak bisa takklukan”. Ike ini memiliki sifat optimisme yang sangat tinggi. Usaha – usahanya, prestasi yang diraihnya, cara ia menaklukkan setiap tantangan didepannya dari situ sudah terlihat jelas kalau Ike ini adalah yang anak yang begitu berbakat baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Dari contoh diatas, dapat dilihat bahwa Ike ini sebenarnya memiliki bakat non-kemahiran dan kemahiran, dimana dari segi bakat non-kemahiran Ike memiliki bakat khusus di dalam mata pelajaran matematika, sementara untuk bakat kemahiran adalah Ike memiliki bakat dibidang aktif organisasi.
                                                                                                                   
3.2.3. Solusi atau Cara Penanganan Untuk Menghadapi Anak Gifted
Penangan untuk anak Gifted yaitu dengan mengarahkannya pada satu hal yang disukainya, mereka cenderung menjadi ahli pada bidang-bidanng tertentu. Sementara bagi orangtua, anak berbakat tetap harus dibimbing dan diasuh sebagai anak lainnya, yakni dicukupi kebutuhan-kebutuhannya baik fisik (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dll) maupun psikis (kenyamanan, ketenangan, kasih sayang dan perlindungan maupunrekreasi)secarapenuh.Tugas guru dan orangtua adalah mengkondisikan situasi lingkungan belajar anak agar mampu mendukung tumbuh kembang keberbakatannya sesuai dengan spesifikasiyangdimiliki.
Anak-anak cerdas berbakat sering kali melakukan hal-hal aneh yang tidak biasa dilakukan oleh anak-anak secara umum sering kali mereka bertindak sangat menjengkelkan terutama pada saat proses belajar berlangsung di kelas-kelas, maupun dalam tingkah laku keseharian. Cara menghadapi masalah pada situasi ini adalah keterlibatan seluruh aspek psikologis dan biologis setiap anak berbakat pada saat mereka berhadapan dengan masalah tersebut. Mereka akan memilih metode, pendekatan dan alat yang strategis sehingga diperoleh pemecahan masalah yang efisien dan efektif. Langkah awal dapat dilihat bahwa setiap anak berbakat mempunyai keinginan yang kuat untuk mengetahui banyak hal  kemudian mereka akan melakukan ekspedisi dan eksplorasi terhadap pengukuran saja. Setelah berpikir dengan baik maka mereka akan memunculkan hasil pemikiran dalam bentuk tingkahlaku.

BAB III
PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.
Retardasi Mental sebenarnya bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses Patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap Intelektualitas dan fungsi Adaptif. Retardasi Mental ini dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa maupun gangguan fisik lainnya.
Anak yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa (gifted) adalah anak yang secara significant memiliki mempunyai IQ 140 atau lebih, potensi diatas rata-rata. Anak berbakat atau anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreatifitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) diatas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Jadi, sebagai orangtua harus menjaga dan mengerti atas kebutuhan anaknya, serta tidak menjatuhkannya namun, membimbing ia agar menjadi anak yang memiliki potensi khusus di balik kekurangannya. Begitu pula dengan anak yang memiliki potensi kecerdasaan/cerdas berbakat, orang tua juga tetap harus membimbing anaknya dan terus memperhatikan anaknya.

4.2.Saran :
Dengan mengucap syukur alhamdulillah pada Allah SWT penulis dapat  menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tentunya masih jauh dari harapan, oleh karena itu penulis masih perlu kritik dan saran yang membangun serta bimbingan, terutama dari Dosen.  Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis, dan makalah ini  bertujuan agar :
·         Setiap manusia mengerti tentang Retardasi Mental & Gifted
·         Agar dapat mengerti akan Reterdasi Mental & Gifted melalui contoh kasus
·         Memahami apa saja solusi atau cara penanganan untuk menghadapi anak Retardasi Mental & Gifted.


DAFTAR PUSTAKA

1 Kampert, A. L., & Goreczny, A. (2007). Community involvement and socialization among individuals with mental retardation . Research in Developmental Disabilities , 278-286.

Minggu, 02 April 2017

schizophernia di lingkungan sekolah


SCHIZOPHRENIA DILINGKUNGAN SEKOLAH (SMA)
PSIKOLOGI ABNORMAL

 

Disusun Oleh :
Kelompok 4

Sistria Rika Astuti                 (A1E116095)


Dosen Pembimbing :
Fadzlul,S.Psi.,M.Psi.
Marlita Andhika Rahman,S.Psi.,M.Psi

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN AJARAN 2016/2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah perkembangan emosi pada remaja tepat pada waktunya.
            Laporan ini disusun sebagai tugas mata kuliah Psikologi Abnormal. Penulis berusaha menyusun makalah  ini dengan segala kemampuan , namun penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan maupun segi penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati demi perbaikan tugas selanjutnya.
            Semoga laporan ini bisa memberikan inormasi dan menambah wawasan mengenai perkembanagan emosi pada remaja. Atas perhatian dan kesempatannya penulis ucapkan terima kasih.






Jambi,    April 2017


Kelompok 4











Daftar isi
Kata Pengantar.................................................................................................................... 2
Daftar Isi............................................................................................................................. 3
BAB I          PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang.............................................................................................................. 4
1.2.  Rumusan masalah......................................................................................................... 5
1.3.  Tujuan........................................................................................................................... 5
BAB II        PEMBAHASAN
2.1.pengertian Schizophrenia............................................................................................... 6
2.2. Faktor-faktor Penyakit Schizophrenia.......................................................................... 7
2.3.Pencegahan Penyakit Schizophrenia............................................................................. 8
2.4.Contoh Kasus Schizophrenia Dilingkungan Sekolah (SMA)........................................ 8
BAB III       PENUTUP
3.1.Kesimpulan.................................................................................................................... 9
3.2.Saran ............................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 10















BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                        
1.1 Latar belakang
Skizofrenia  merupakan  gangguan perkembangan  neurologis  yang  ditandai adanya defisit  kognitif,afek  dan  relasi sosial. Gangguan  ini  ditandai  dengan adanya gejala psikosis, seperti halusinasi dan  waham.  Sedangkan,  gangguan kognisi  atau  gangguan  pengelolaan informasi merupakan  salah  satu  gejala yang  dapat  muncul  namun  kurang  jelas. Prevalensi skizofrenia dapat terjadi pada semua  kalangan  umur  dan  puncaknya pada  usia  20  hinga  30  tahun,  dimana pada  laki-laki  lebih  awal  dari pada perempuan.  Semakin  muda  seseorang mengalami  gangguan  psikosis  maka,prognosisnya semakin buruk. 1,2 skizofrenia  masa  anak  merupakan suatu  gangguan  psikiatrik  berat  yang mempengaruhi  hampir  seluruh  aspek kehidupan  anak.  Skizofrenia  masa  anak merupakan kasus yang jarang ditemukan, terutama  pada  anak  di  bawah  usia  10 tahun,namun  jumlah  kasus  bertambah seiring  dengan  bertambahnya  usia sampai  menjelang usia dewasa  muda.
Skizofrenia pada  anak-anak ditandai dengan onset gejala psikotik pada usia 12 tahun.
3,4 Prevalensi  skizofrenia pada  anakanak dilaporkan kurang dari 1 kasus pada 10.000 anak, sedangkan pada usia 13-18 tahun,  prevalensi  skizofrenia  meningkat. Gejala-gejala skizofrenia  yang muncul pada  onset  anak-anak  sama  dengan remaja dan dewasa.  Namun  dengan adanya komorbiditas gangguan kejiwaan,termasuk gangguan pemusatan perhatian dan  hiperaktivitas  (AttentionDeficit/Hyperactivity  Disorder,  ADHD),gangguan  depresi,  dan  gangguan  cemas dapat  meningkatkan  fitur  fenomena skizofrenia tersebut.3,4 Penyebab  dari  skizofrenia belum dapat  dipastikan,  namun  beberapa  teori mengatakan  skizofrenia  pada  anak disebabkan  oleh  faktor  genetik  dan lingkungan. Selain  itu  juga  diketahui bahwa  adanya  kelainan  pada  anatomi otak,  neurotransmiter,  infeksi, dan trauma  merupakan  beberapa  penyebab dari skizofrenia.3,4 Kebanyakan  anak-anak  dengan skizofrenia  memiliki  gangguan  perilaku dan  kognisi  sebelum  onset  gejala  khas psikosis.  Sekitar  sepertiga  anak-anak menunjukkan  gejala  kurangnya perhatian,  hiperaktif,  agresi,  atau kemarahan.  Sebagian  anak-anak sebelumnya  telah  didiagnosis  dengan autisme, ADHD, dan gangguan kejiwaan yang  lainnya.  Pada  salah  satu  studi, gejala  psikosis  muncul  rata-rata  2,5 tahun  setelah  gejala  awal,  dan  diagnosis skizofrenia  ditegakkan  rata-rata  2  tahun setelah onset psikosis. 4 Gangguan  ini  menghambat  proses neurodevelopmental,  akibatnya  dapat memberi  dampak  yang  merusak  fungsi kognitif, afektif  dan  sosial.  Deteksi  dini diperlukan  agar  dapat  dilakukan pengenalan  gejala-gejala,  sehingga diagnosis dini  dapat  ditegakkan  dan dilakukan intervensi sedini mungkin.
Hal ini diharapkan dapat mencegah gangguan 3 ini  menjadi  kronis.  Pada deteksi  dini yang  harus  diperhatikan  adalah: manifestasi  gangguan  akut,  faktor dankondisi  yang  melatar belakangi,  dan faktor yang dapat menentukan relaps. 4,5 Meskipun  skizofrenia  ditegakkan berdasarkan diagnosis  klinis, diagnosis skizofrenia  pada  masa  anak  tidaklah mudah.  Hal  ini  didasarioleh  minimnya kemampuan  anak  mengekspresikan secara  verbal  apa  yang  merekarasakan atau apa yang mereka alami, oleh karena itu  gejala  psikotik  pada  anak  tidaklah jelas seperti  pada  remaja  atau  orang dewasa. Berdasarkan  uraian tersebut maka  diagnosis  penyakit  psikotik  pada anak  harus  hati-hati  sehingga  intervensi yang tepat dapat diberikan sejak dini.


1.2 Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan Skizofrenia?
2.      Apa faktor penyebab penyakit  Skizofrenia?
3.      Bagaimana cara mencegah penyakit Skizofrenia?
4.      Bagaimana khasus Skizofrenia di lingkugan sekolah (SMA)?


1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu Skizofrenia
2.      Untuk mengetahui faktor penyebab penyakit Skizofrenia
3.      Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit Skizofrenia
4.      Untuk mengetahui khasus Skizofrenia di lingkungan sekolah (SMA)









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Scizophrenia

Scizophrenia adalah gangguan jiwa dengan gejala utama berupa waham (keyakinan akan suatu hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau tidak nyata) dan halusinasi (keyakinan bahwa penderita melihat atau mendengar sesuatau yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata). Adapun 3 simptom negatif yang diakui DSM-IV sebagai inti dari scizophrenia adalah :
-Affective Flattening : Hilangnya respons-respons emosional terhadap lingkungan. (ekspresi wajah yang tidak pernah berubah untuk waktu yang lama, berbicara dengan nada yang monoton, tidak ada kontak mata ketika berbicara dengan orang lain).
-Alogia : Berkurangnya bahkan hilangnya aktivitas berbicara. (penderita tidak menunjukkan inisiatif untuk berkomunikasi dengan orang lain, jika ditanya penderita akan menjawab dengan singkat/jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan).
-Avolition : Ketidakmampuan untuk bertahan dalam melakukan aktivitas yang mengarah pada tujuan, baik dalam masalah pekerjaan, sekolah, dll. (penderita dapat duduk sepanjang hari tanpa meakukan apapun, menarik diri dari lingkungan sosial, terisolasi secara sosial).
Terdapat 3 tipe schizophrenia :
·Tipe paranoid (Pikiran-pikiran yang absurd/tidak ada pegangan, tidak logis, delusi berganti-ganti, tidak dapat diduga, perasaan yang berlebihan mengenai pentingnya kebesaran, kekuasaan, pengetahuan, atau identitas diri mereka).
·Tipe katatonik (Penarikan diri dari lingkungan sosial yang bersifat ekstrim, yang paling sering adalah gerakan diam untuk jangka panjang). Beberapa penderita yang suggestible/mudah disugesti secara otomatis mengikuti perintah atau menirukan tingkah laku/echopraxia atau menirukan kata-kata orang lain/echolalia-Hendro Prakoso Budisantoso, 1997).
·Tipe disorganisasi (hati-hati yang berlebihan, atau terpaku pada masalah-masalah religius dan filosofis. Tipe ini tidak memiliki bentuk delusi atau halusinasi yang jelas, pikiran dan tingkah lakunya sangat tidak terorganisir/disorganized. Misalnya : cara bicara yang sulit dipahami, tidak sistematis, emosi yang meledak-ledak seperti tiba-tiba tertawa atau menangis).
Kriteria Schizophrenia dalam DSM-IV-TR
 -Terdapat dua atau lebih simptom-simptom berikut ini dengan porsi waktu yang signifikan selama sekurang-kurangnya satu bulan: waham, halusinasi, disorganisasi bicara, disorganisasi perilaku atau perilaku katatonik, simtom-simtom negatif.
-Keberfungsian sosial dan pekerjaan menurun sejak timbulnya gangguan.
-Gejala-gejala gangguan terjadi selama sekurang-kurangnya enam bulan ; sekurang-kurangnya satu bulan untuk simptom-simtpom pada poin pertama dalam bentuk ringan. Selebihnya simptom-simptom negatif atau simptom lain pada poin pertama dalam bentuk ringan.

2.2  Faktor-Faktor Penyebab Penyakit Schizophrenia

1.      Faktor Keturunan : Adanya lebih banyak gen yang terganggu meningkatkan kemungkinan berkembangnya schizophrenia dan meningkatkan keparahan gangguan tersebut.
2.      Struktur Otak Abnormal : Sejak dahulu para ilmuan meyakini ada yang berbeda pada otak orang-orang dengan schizophrenia. Struktur utama otak yang abnormal sesuai dengan schizophrenia adalah pembesaran ventrikel (enlarged verticle). Ventrikel adalah ruang yang berisi cairan di dalam otak. Pembesaran ini memicu terjadinya atropi (berhentinya pertumbuhan) dan deteriorasi di jaringan otak lainnya. Orang-orang schizophrenia dengan pembesaran ventrikel cenderung menunjukkan penurunan fungsi sosial, emosi dan perilaku, lama sebelum mereka mengembangkan simptom utama atau inti (core symptom) dari schizophrenia.
3.      Komplikasi Kelahiran : Komplikasi yang serius selama periode prenatal dan masalah-masalah berkaitan dengan kandungan pada saat kelahiran merupakan hal yang lebih sering terjadi dalam sejarah penderita schizophrenia.
4.      Perspektif Lintas Budaya : Kultur (budaya) sangat beragam dalam menjelaskan schizophrenia. Terdapat keyakinan bahwa gangguan disebabkan gangguan biologis yang bercampur dengan stress, kurangnya pengetahuan spiritual dan dinamika keluarga.
5.      Neurotransmitter : Neurotransmitter dopamine dianggap memainkan peran dalam schizophrenia (Conklin & Lacono, 2002). Teori awal dari dopamine menyatakan bahwa simptom-simptom schizophrenia disebabkan oleh kelebihan jumlah dopamine di otak, khususnya di daerah lobus frontalis dan sistem limbik.

2.3 Cara Mencegah Penyakit Schizhoprenia

1.Pencegahan Primer Dilakukan dengan cara mendorong perkembangan kesehatan dan perilaku penanganan yang efektif baik pada taraf biologis, psikososial dan sosiokultural. (contoh : pemeliharaan kesehatan, pemeliharaan prenatal dan pascanatal dan pendidikan kepada masyarakat mengenai kesehatan mental).
2.Pencegahan Sekunder Prevensi taraf ini lebih menekankan pada deteksi dini dan pengenalan penanganan perilaku maladaptif dalam keluarga dan komunitas.
3.Pencegahan Tersier Pencegahan tersier dilakukan setelah gangguan muncul, pencegahan ini lebih melibatkan dukungan dan penanganan yang tepat kepada pasien dengan maksud mencegah gangguan menjadi kronik dan memungkinkan individu kembali pulang secepat mungkin.

2.4 Contoh Kasus penyakit schizophrenia disekolah (SMA)

 Joe adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya. Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di maktab (college)-nya, semuanya mulai berubah. Joe tak lagi makan bersama dengan kawan-kawannya, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamarnya. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadinya dan berhenti menghadiri kuliah. Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah bukunya memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukannya sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah bukunya dan kini mencoba untuk menipunya. Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Joe sedang sendirian di kamarnya, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan :
           
            Skizofrenia  merupakan  gangguan perkembangan  neurologis  yang  ditandai adanya defisit  kognitif,afek  dan  relasi sosial. Gangguan  ini  ditandai  dengan adanya gejala psikosis, seperti halusinasi dan  waham.  Sedangkan,  gangguan kognisi  atau  gangguan  pengelolaan informasi merupakan  salah  satu  gejala yang  dapat  muncul  namun  kurang  jelas.

            Faktor-Faktor Penyebab Penyakit Schizophrenia
1.      Faktor Keturunan
2.      Struktur Otak Abnormal
3.      Komplikasi Kelahiran
4.      Perspektif Lintas Budaya
5.      Neurotransmitter

 Cara Mencegah Penyakit Schizhoprenia
1.Pencegahan Primer
2.Pencegahan Sekunder         
3.Pencegahan Tersier

3.2 Saran :

            Marilah kita mengenali lebih lanjut apa penyebab-penyebab terjadinya schizophrenia supaya kita dapat mencegah terjadinya schizophrenia pada orang-orang yang kita sayangi, selain itu juga agar kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana ciri-ciri orang yang mengalami schizophrenia. Agar dapat diproses dengan cepat.




Daftar Pustaka

Nolen, S.&Hoeksema.Abnormal Psychology (4th edition). New York: Mc Graw Hill. Nevid, J.S; Rathus, S.A; Greene, R.A. (2000). Abnormal Psychology In A Changing World (4th edition). New Jersey : Prentice Hall.
Wiramihardja, S.A. (2007). Pengantar Psikologi Abnormal (Cetakan Kedua). Bandung : Refika Aditama.