MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN I
ASPEK
PERKEMBANGAN PERAN SEKS
Disusun
Oleh :
Sistria
Rika Astuti
(A1E116095)
1/E
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
TAHUN
AJARAN 2016/2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesikan makalah yang berjudul “ASPEK PERKEMBANGAN PERAN SEKS”
dapat terselesaikan tapat pada waktunya.
Makalah
ini disusun sebagai tugas kelompok mata kuliah Psikologi Perkembangan 1. Kami
berusaha menyusun makalah ini dengan segala keampuan, namun kami menyadari
bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi penulisan
maupun segi penyusunan. Olah karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun akan kami terima dengan senanghati demi perbaikan makalah
selanjutnya.
Semoga
makalah ini bisa memberika informasi dan menambah wawasan mengenai Aspek
Perkembanan Peran Seks. Atas perhatian dan kesempatannya kami ucapkan terima
kasih.
Jambi, 9 Oktober 2016
Kelompok
11
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
............................................................................................................................2
Daftar
Isi
.....................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................................4
1.2
Rumusan Masalah .....................................................................................................5
1.3
Tujuan
.......................................................................................................................5
1.4
Manfaat .....................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Arti
Peran Seks ...........................................................................................................................6
2.2 Asal mula Stereotip
Peran Seks
....................................................................................6
2.3 Jenis Peran Seks ..............................................................................................................8
2.4 Penanggungjawab Atas Penentuan Peran Seks Selama
Masa Kanak-kanak ..................9
2.5 Metode Umum Penentuan Peran Seks ............................................................................11
2.6 Bahaya Dalam Perkembangan Peran Seks .....................................................................12
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ....................................................................................................................13
Daftar Pustaka
................................................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Pernah ada waktu ketika belajar berperan sesuai
dengan jenis kelamin merupakan bagian normal dari proses pertumbuhan, sehingga
tak seorangpun menganggapnya sebagai masalah. Terdapat pola-pola yang disetujui dan ditentukan
secara budaya bagi anak perempuan dan anak laki-laki dalam hal berfikir,
bertindak, berpenampilan, dan berperasaan. Juga terdapat pola-pola yang
disetujui dan ditetapkan bagi anak untuk mempersiapkan diri akan pola kehidupan
dewasa.
Pada saat anak-anak beralih dari masa bayi ke
masa kanak-kanak,lalu masa remaja dan akhirnya ke masa dewasa. Mereka belajar untuk memainkan peran yang
ditentukan ini. Sama halnya seperti mereka belajar hal lain yang
dianggap perlu untuk penyesuaian yang baik pada pola hidup masa dewasa. Mereka
mengetahui dengan tepat pola kehidupan mereka dan telah siap untuk
melaksanakannya dengan berhasil, karena tidak pernah terbuka
alternatif lain mereka belajar menerima perkembangan
peran seks mereka, meskipun sebenarnya mereka mungkin ingin dilahirkan dengan jenis kelamin
yang lain.
1.2 Rumusan Masalah
1.1.1
Bagaimana Asal mula sterotip peran seks
?
1.1.2
Apa saja jenis peran seks ?
1.1.3
Siapa penanggung jawab atas Penentuan Peran Seks
Selama Masa Kanak-kanak ?
1.1.4
Apa saja Metode umum penentuan peran seks ?
1.1.5
Bagaimana Bahaya dalam perkembangan peran seks
?
1.3Tujuan
1. Membahas tentang arti peran seks dan asal mula stereotip peran seks.
2. Membahas
tentang jenis-jenis peran seks.
3. Membahas
tentang penanggung jawab atas penentuan peran seks selama masa kanak-kanak.
4. Membahas
tentang metode umum penentuan peran seks.
5.Membahas
bahaya dalam perkembangan peran seks.
1.4
Manfaat
1.Agar setiap
manusia mengerti arti peran seks.
2.Agar setiap
manusia mengerti jenis-jenis peran seks.
3.Agar setiap
manusia mengerti siapa penanggung jawab penentuan peran seks selama masa kanak-
kanak.
4. Agar setiap
manusia mengerti metode umum penentuan peran seks.
5. Agar setiap
manusia mengerti bahaya dalam perkembangan peran seks.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Arti Peran Seks
1. Aspek Kognitif
Aspek kognitif mencakup persepsi, anggapan dan
harapan orang dari kelompok jenis kelamin pria dan wanita. Anggapan, persepsi,
dan harapan ini sederhana, seringkali kurang berdasar, dan kadang-kadang
sebagian tidak akurat tetapi tetap dipertahankan kuat-kuat oleh banyak orang.
2. Aspek Afektif
Aspek afektif mencakup sikap ramah maupun tidak
ramah umum terhadap objek sikap dan berbagai perasaan sikap dan berbagai perasaan
spesifik yang memberi warna emosional pada sikap tersebut. Perasaan ini mungkin berupa kekaguman dan
simpati atau rasa superior, iri hati, dan rasa takut.
3. Aspek Konatif
Aspek konatif dari semua stereotip mencakup
anggapan mengenai apa yang harus dilakukan berkenaan dengan kelompok yang
bersangkutan dan dengan anggota tertentu kelompok tersebut. Dalam kasus
stereotip peran seks, terdapat anggapan bahwa anggota kelompok seks pria harus
bertanggung jawab atas tugas-tugas yang menuntut kekuatan fisik, dan bahwa
anggota jenis kelamin wanita harus dilindungi terhadap setiap tanggung jawab
yang mungkin membahayakan kondisi fisik mereka yang lebih lemah.
2.2 Asal mula Stereotip Peran Seks
1.
Perbedaan Fisik
Pria mempunyai tubuh yang lebih besar, otot yang
lebih kuat dan kekuatan otot yang lebih besar. Wanita mempunyai tubuh yang
lebih kecil, otot yang lebih kecil, kurang bertenaga. Oleh sebab itu pria mampu
melakukan hal-hal yang menuntut tenaga lebih besar, dan wanita melakukan
hal-hal yang lebih membutuhkan keterampilan hasil koordinasi otot yang lebih
baik.
2.
Perbedaan Psikologis
Wanita dapat melahirkan anak dan harus mengalami
beberapa ketidaknyamanan periodik pada waktu menstruasi. Bila menopause
terjadi, wanita kehilangan salah satu fungsi fisiologisnya yang utama, disertai
penurunan dorongan seks. Sebaliknya, pria tidak mempunyai ketidaknyamanan
periodik tersebut, mereka tidak mengalami penurunan dorongan seks, kemampuan
membuahi tetap ada, dan satu-satunya peran dalam pembuahan tidak mengganggu
pola kehidupan normal mereka.
3.
Perbedaan Naluri
Ketika orang percaya bahwa kehidupan seseorang
dikendalikan naluri atau dorongan-dorongan bawaan, naluri keibuan dianggap
mendorong wanita untuk ingin menjadi seorang ibu dan mengisi waktunya dengan mengasuh
anak. Naluri ayah hanya berfungsi sebagai dorongan untuk melindungi anaknya selama mereka tidak mampu melindungi
dirinya.
4.
Perbedaan Kecerdasan
Sampai pergantian abad ini ada anggapan bahwa
ukuran otak dan tingkat inteligensi sangat erat berhubungan. Karena pria pada
semua usia mempunyai otak yang lebih besar dari wanita, mereka dianggap
mempunyai inteligensi yang lebih tinggi.
5. Perbedaan Prestasi
Sepanjang sejarah, prestasi terbesar dalam seni,
musik, sastra, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lain adalah prestasi kaum pria.
Orang berasumsi bahwa kekuatan dan kemampuan intelektual yang superiorlah yang
memungkinkan prestasi yang lebih tinggi ini.
6. Perbedaan Emosional
Karena wanita mengalami gangguan periodik pada
waktu menstruasi, ada anggapan bahwa gangguan fisiologis ini akan mengarah ke
gangguan emosional, yang menyebabkan wanita secara emosional tidak stabil.
Sebaliknya pria dianggap emosional stabil, seperti halnya mereka secara
fisiologis stabil.
7. Perbedaan Kesehatan
Sebutan “jenis yang lebih lemah” diberikan pada
wanita karena kepercayaan bahwa mereka lebih banyak
mengalami gangguan fisik dan penyakit dibandingkan pria. Kondisi fisik yang
lebih lemah dihubungkan dengan tubuh yang lebih kecil dan lemah, menstruasi,
dan kehamilan.
8. Perbedaan Angka Kematian
Kematian wanita pada usia muda dikaitkan dengan
sebab-sebab alami. Kelemahan
fisik yang membuat mereka tidak mampu menghadapi derita proses melahirkan. Tetapi pada pria, kematian pada usia muda
dikaitkan dengan cara hidup mereka yang lebih berbahaya, bukan dengan
sebab-sebab alami. Wanita mencapai usia lebih tinggi karena kehidupan mereka
lebih mudah dan aman, berkat perlindungan pria. Pria meninggal lebih dini
karena mereka bekerja lebih keras dan lebih banyak dihadapkan pada bahaya
dibandingkan wanita.
2.3
Jenis Peran Seks
1. Peran Seks Tradisional
Stereotip yang mendasari peran seks pria dan
wanita tradisional merupakan perwujudan prinsip dasar bahwa ada perbedaan
antara kedua jenis kelamin. Kedua jenis itu tidak saja berbeda, tetapi mereka
juga berbeda dalam bidang yang penting bagi kesejahteraan dan kemajuan
kelompok sosial, tempat melekat mengidentifikasi diri. Tambahan pula perbedaan
ini mengunggulkan jenis kelamin pria.
Karena dianggap lebih superior, telah menjadi
keyakinan umum bahwa pria dapat dan harus memberi sumbangan berbeda kepada
kelompok sosial daripada wanita dan bahwa sumbangan pria lebih superior dari
sumbangan wanita. Untuk mampu memberi sumbangan sesuai dengan kemampuan, ke dua
jenis harus belajar memainkan peran yang diberikan sebaik mungkin, tanpa
mempedulikan minat dan kemampuan pribadi. Untuk memerankan peran ini dengan
baik kedua jenis harus menampilkan citra yang disetujui untuk jenisnya, mereka
harus menghindari setiap perilaku yang tidak sesuai bagi jenisnya, walaupun hal
itu sesuai untuk anggota jenis yang lain, dan mereka harus menunjukkan sikap
tidak toleran dan mencemoohkan mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan peran
seks yang disetujui, sebagai cara memotivasi mereka untuk mengadakan
penyesuaian.
2. Peran Seks Yang Sederajat
Stereotip dari peran seks yang sederajat
di-dasarkan atas prinsip dasar bahwa perbedaan antara jenis kelamin jauh lebih
sedikit dan pada yang dikira sebelumnya dan bahwa perbedaan yang ada tidak
penting dalam masyarakat di mana teknologi telah menggantikan peran yang
sebelumnya dipegang tenaga fisik.
Karena pola kehidupan telah menjadi lebih
kompleks dari sebelumnya, kelompok, budaya membutuhkan sumbangan yang lebih
beragam dari yang diperlukan pada saat pola kehidupan masih sederhana.
Akibatnya, kedua jenis dapat memberi sumbangan pada kesejahteraan dan kemajuan
kelompok. Walaupun sumbangan mereka berbeda, sumbangan kedua jenis kelamin
berharga dan tidak ada bukti bahwa kelompok pria memberi sumbangan yang lebih
berharga dari kelompok wanita dan sebaliknya. Melalui sumbangan yang berbeda
inilah kemajuan mungkin terjadi.
Untuk memberikan sumbangan pada kelompok, yang
memang harus dan dapat dilakukan anggota kedua jenis, sumbangan itu tidak perlu
diberikan. Menurut pola tertentu. Masing-masing individu harus bebas
mengembangkan minat dan kemampuannya. Di samping itu karena kedua jenis dapat
memberi sumbangan pada kesejahteraan dan kemajuan kelompok, mereka harus diberi
kesempatan yang sama untuk menyumbang sesuai dengan kemampuannya. Mereka juga
harus diberi pelatihan yang dibutuhkan bagi sumbangan itu, tanpa memandang
jenis kelamin.
Secara umum, peran seks sederajat (egalitarian)
menghapuskan penekanan pada perbedaan ekstrem antara jenis kelamin. Penekanan ini khas bagi stereotip peran seks
tradisional. Peran tradisional dimodifikasi sedemikian rupa hingga peran wanita
condong ke arah peran pria dan sebaliknya peran pria condong ke arah peran
wanita. Akibatnya peran-peran ini bertemu di tengah dengan lebih banyak unsur
persamaan daripada perbedaan.
2.4
Penanggungjawab Atas Penentuan Peran Seks Selama Masa Kanak-kanak
1. Orang Tua
Walaupun kedua orang tua memegang peranan
penting dalam penentuan peran seks anak, peranan mereka beragam bergantung dari
jenis kelamin dan usia anak. Karena ibu lebih banyak bertanggung jawab dalam
pendidikan anak selama awal masa hidupnya dibandingkan ayah, penentuan peran
seks lebih dilakukan ibu dari ayah pada saat itu. Berapa besarnya pengaruh ayah kelak pada
penentuan peran seks anak akan bergantung sebagian pada hubungan ayah dengan
anaknya dan sebagian pada jenis kelamin anak.
Selama awal masa kanak-kanak, para ibu cenderung
lebih berminat untuk mengasuh anak dari para ayah. Akibatnya, hubungan ibu
dengan anak lebih baik. Ini mendorong anak untuk lebih dipengaruhi ibunya
daripada ayahnya. Hal ini berlaku pada anak laki-laki maupun perempuan. Bagaimana
anak bereaksi terhadap orang tuanya juga mempengaruhi pengaruh orang tua pada
penentuan peran seks anak. Contohnya, bila anak, baik laki-laki maupun
perempuan, menunjukkan ketergantungan pada orang tua, orang tua cenderung
memperkuat ketergantungan tersebut. Karena para ibu sebagai suatu kelompok,
lebih mendorong ketergantungan dari ayah, anak laki-laki dan perempuan
cenderung menjadi lebih tergantung ketimbang mandiri dan agresif. Inilah suatu
ciri yang sesuai dengan jenis bagi anak perempuan, namun tidak sesuai bagi anak
laki-laki, menurut stereotip peran seks yang tradisional.
2. Para Guru
Seperti halnya orang tua, berapa besarnya
pengaruh para guru pada penentuan peran seks anak bergantung pada kualitas
hubungan antara guru dan murid dan pada gengsi yang dikaitkan pada para guru.
Sebagaimana diterangkan dalam bab terdahulu, dalam pembahasan minat anak pada
sekolah, salah satu penyebab merosotnya minat pada sekolah ialah memburuknya
hubungan antara murid dan guru.
Selama tahun prasekolah, guru kelompok bermain
dan taman kanak-kanak berperan sebagai pengganti orang tua. Dalam peran ini,
terdapat kehangatan dalam hubungan murid-guru yang menyerupai hubungan orang
tua-anak. Hubungan yang menyenangkan ini mendorong anak untuk ingin meniru
gurunya dan untuk belajar apa yang diajarkan guru padanya, baik yang berupa
kecakapan bermain maupun yang berupa cara bergaul dengan teman sebaya.
Kemerosotan hubungan murid guru ' berjalan
sejajar dengan penurunan minat pada sekolah. Di kelas dua, banyak anak mulai merasa
bosan dengan sekolah atau benar-benar tidak menyukainya. Perasaan tidak suka
sekolah meluas sampai ke para guru. Akibatnya, hubungan yang sebelumnya hangat
dan erat menjadi tegang, dan sering merupakan hubungan yang antogenistis. Dalam
kondisi seperti itu pengaruh guru atas penentuan peran seks berkurang.
Sebagian dari hubungan yang tegang dan
antagonistis ini dapat ditelusuri kehilangan gengsi guru di mata muridnya.
Karena anak menemukan bahwa gengsi rendah dikaitkan dengan pekerjaan mengajar
dan pada wanita sebagai suatu kelompok, suatu sikap yang datang dari
mempelajari arti stereotip peran seks,
mudah dimengerti bahwa hubungan murid-guru yang buruk akan berkembang.
Ini terutama mungkin sekali terjadi di antara anak laki-laki yang cenderung
mempunyai pandangan negatif terhadap mengajar dan wanita.
Apakah para guru akan mendorong penentuan peran
seks tradisional atau sederajat akan sebagian bergantung pada sikap mereka
sendiri terhadap jenis peran seks tersebut, tetapi terutama pada keyakinan
mereka mengenai dorongan yang dikehendaki orang tua murid. Hal ini dalam batas
tertentu bergantung pada masyarakat setempat. Dalam masyarakat yang sebagian
besar ibunya bekerja di luar rumah, ada alasan untuk menganggap bahwa orang tua
tidak terlalu kuatir bila anaknya belajar stereotip peran seks yang sederajat,
berbeda dengan masyarakat yang pola hidupnya dikendalikan oleh peran seks
tradisional.
3. Teman Sebaya
Anggota kelompok teman sebaya, sebagaimana
ditunjukkan sebelumnya, belum mulai mempunyai pengaruh pada penentuan peran
seks anak sampai terdapat interaksi antara anak dan teman sebayanya. Pada awal hubungan dengan teman sebaya hanya
terjadi sedikit interaksi. Anak bermain berdampingan dengan anak lain, tetapi
hampir tidak ada kerja sama. Demikian juga hampir tidak ada komunikasi. Bila
berbicara, mereka biasanya berbicara tentang apa yang dikerjakannya tetapi
tidak berusaha untuk berkomunikasi dengan anak lain yang berada di dekatnya.
Menjelang akhir masa kanak-kanak, interaksi
bermain muncul dan komunikasi antar-teman bermain mulai ada. Bila hal ini
terjadi, teman sebaya mulai mempengaruhi penentuan peran seks anak. Pengaruh
ini mungkin berupa peniruan perilaku salah satu teman sebaya atau mungkin
berupa identifikasi dengan teman sebaya. Contohnya, terdapat hubungan yang
hangat dan erat antara seorang anak dengan temannya, tiap anak ingin men-jadi
seperti anak yang lainnya. Jika keduanya telah ditentukan peran seksnya di
rumah berupa stereotip peran seks sama, tradisional atau sederajat interaksi anak
dengan temannya akan memperkuat penentuan peran seks yang dimulai di rumah.
Sebaliknya, bila mereka telah mengalami penentuan peran seks yang berbeda di
rumah, anak yang akan menjadi contoh atau mempengaruhi teman sebaya adalah anak
yang lebih dominan dalam hubungan bermain itu.
2.5
Metode Umum Penentuan Peran Seks
1.
Meniru
Bila anak belajar memerankan peran seks dengan
meniru, mereka melakukannya dengan meniru cara bicara, perilaku dan ciri-ciri
pribadi maupun minat dan nilai orang yang ditiru. Metode belajar ini terutama
umum selama awal masa kanak-kanak ketika anak cenderung meniru siapa saja yang
penting baginya dan dengan siapa mereka sering bergaul. Model yang biasa ditiru
adalah orang tua, saudara yang lebih tua atau orang lain yang mengasuh-nya
seperti guru kelompok bermain atau guru taman kanak-kanak.
2. Identifikasi
Anak bukannya meniru orang-orang dalam
lingkungannya, melainkan memilih dari antara mereka seorang yang sangat
dikaguminya atau yang sangat disayanginya sebagai modelnya. Pertama-tama model mungkin salah satu orang
tuanya atau saudara yang lebih tua yang baik terhadapnya. Kemudian model ini
mungkin lebih sering tokoh luar rumah, terutama tokoh media massa, pemimpin
masyarakat atau negara, juara olah raga.
3. Pelatihan Anak
Dalam penentuan peran seks lewat pelatihan anak
belajar bertindak, berpikir, dan merasa seperti yang diharapkan orang yang
berwewenang. Mereka mungkin diberitahu mengapa mereka harus berbuat demikian,
atau mungkin juga mereka diharuskan patuh secara buta. Kadang-kadang
penghargaan diberikan jika harapan orang yang berwewenang terpenuhi sedangkan
kadang-kadang dianggap sudah seharusnya mereka memenuhi harapan ini. Hukuman
berbentuk ketidaksetujuan banyak digunakan untuk ketidakpatuhan. Pelatihan
anak, terutama menekankan aspek negatif peran seks daripada aspek yang positif.
Contohnya anak laki-laki diberitahu bahwa “laki-laki tidak menangis,” tetapi
mereka tidak diberitahu apa yang harus mereka lakukan bila mereka merasa sakit,
frustasi, atau kecewa.
2.6
Bahaya Dalam Perkembangan Peran Seks
Terdapat banyak bahaya serius di bidang
perkembangan peran seks. Alasannya ialah bahwa bahkan dalam budaya, di mana
pola kehidupan bagi semua orang berubah dengan cepat dan radikal, perubahan
dalam peran seks cenderung lebih lamban dari perubahan lainnya Kelambanan ini,
setidak-tidaknya sebagian, disebabkan keengganan di pihak pria untuk melepaskan
status superioritas yang dinikmatinya sejak berabad-abad.
Keengganan ini diperkuat oleh kesadaran bahwa
superioritas yang diperoleh karena prestasi kadang-kadang dapat diraih oleh
anggota jenis yang secara tradisional dianggap inferior. Berbagai suatu status
yang dianggap sudah menjadi haknya atau melepaskannya kepada mereka yang
dianggap inferior selalu merupakan pengalaman yang menciutkan ego.
Bila perubahan terjadi, suatu periode ketaksaan
mengenai pola perilaku yang disetujui terjadi. Hal ini memperbesar masalah
penyesuaian yang biasanya telah ada. Sampai kelompok sosial bersangkutan
menerima suatu pola penentuan peran seks yang konsisten bagi anak sebagai
pedoman bagi mereka yang bertanggung jawab atas pelatih-an anak, anak-anak akan
dirugikan karena harus menghadapi lebih banyak masalah dalam penyesuaian
pribadi dan sosial mereka. Andaikan konsistensi yang lebih besar dalam pola
penentuan peran seks yang disetujui telah ada, masalah-masalah penyesuaian akan
berkurang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi disini dapat di simpulkan bahwa Pendidikan seks sejak dini sangat penting di
berikan oleh orangtua kepada anak. karena anak zaman sekarang rasa ingin
tahunya besar. kadang ada orangtua yang menjawab pertanyaan hal semacam itu dengan
sekenanya saja. tanpa disadari orangtua sudah memberikan pendidikan seks yang
salah dan akan berakibat pada perkembangan anak.
Peran seks ialah pola perilaku bagi individu
kedua jenis kelamin yang disetujui dan diterima kelompok, dengan siapa individu
diidentifikasikan. Stereotip peran seks didasarkan pada keyakinan fundamental
bahwa pria lebih superior dari wanita karena superioritas fisik dan
fisiologisnya. Keyakinan
ini meluas ke seluruh bidang kemampuan dan kecakapan lainnya.Penentuan peran seks terjadi lewat tiga metode
belajar yang umum, yaitu peniruan,identifikasi dan pendidikan.
B.
Saran
Dengan mengucap syukur alhamdulillah pada Allah SWT penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tentunya masih jauh dari harapan,
oleh karena itu penulis masih perlu kritik dan saran yang membangun serta
bimbingan, terutama dari Dosen. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca
dan bagi penulis, dan makalah ini bertujuan
agar :
·
setiap manusia mengerti arti peran seks.
·
Agar setiap manusia mengerti jenis-jenis peran seks.
·
Agar setiap manusia mengerti siapa penanggung jawab penentuan peran seks
selama masa kanak- kanak.
·
Agar setiap
manusia mengerti metode umum penentuan peran seks.
·
Agar setiap manusia mengerti bahaya dalam perkembangan peran seks.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock,
Elizabeth B. 1980. Psikologi
Perkembangan, edisi kelima. Jakarta : Erlangga. Sex Education for Children, Panduan Islam Bagi
Orangtua dalam Pendidikan Seks Untuk Anak. Yusuf Madam, Profesor pada Ays
Syam University, Mesir.